Kardus Mingguan

“Awalnya, cerpen ini ditulis untuk mengisi waktu di Hari Ibu. Setelah menyelesaikannya, aku merasa cukup puas, lalu berpikir … bagaimana jika cerita ini diikutkan saja ke dalam lomba? Maklumlah, pada masa itu orang-orang memang berlomba-lomba mengikuti lomba. Cukup beruntung, cerpen ini terpilih sebagai salah satu pemenang dalam Lomba Menulis Cerpen Pekan Jurnalistik V Genta Andalas. Kabar buruknya, cerpen ini tak mendapat tempat dalam buku kumpulan cerpen pertamaku: Pabaruak. Apa cerpen ini sebegitu buruknya? Kurasa, tidak. Setelah terpilih sebagai Pemenang II dalam lomba tersebut, cerpen ini dimuat di Harian Singgalang, 23 November 2014. Masih penasaran, aku memberanikan diri melanggar etika dalam kepenulisan yang sering diagung-agungkan di kalangan sastrawan koran: kukirim ulang dan dimuat di Majalah Ummi edisi Desember 2016. Tidak terlalu buruk, kan? Lantas, kenapa tak ada tempat untuknya di tubuh Pabaruak? Silakan dibaca dan Sanak akan tahu jawabannya.”

Kardus Mingguan

Rumah itu bisa ditempuh bersepeda dari persimpangan. Jalan menujunya teramat kecil dan berlumpur. Barangkali sebesar pematang sawah. Tapi bukan berarti tidak ada rumah lain di dalamnya—meski beberapa. Halamannya memang tidak dihiasi bunga-bunga. Namun, bukan berarti pemiliknya tidak menyukai bunga dan keindahan. Kau bisa melihatnya ketika pintu rumah itu mulai terbuka. Ada beberapa perabotan sederhana berupa guci tua. Kendati demikian, tak ada yang lebih istimewa kecuali empat almanak yang selalu tertempel di dinding rumahnya.

Rumah itu selalu bisu. Selain erangan pintu terbuka dan bisikan tikus di malam hari, hampir dipastikan tak ada suara lain dari dalamnya. Anak perempuannya telah dirampas lelaki yang memperistrinya. Kini, ia hanya menggantungkan harapan pada bujangnya yang tengah menimba ilmu. Anak bujangnya itu akan kembali, barangkali menemani suatu hari. Tapi, tentu saja setelah empat almanak dindingnya tersilangi.

Sudah tak terhitung minggunya. Sejak bujangnya pergi, perempuan paruh baya itu selalu terlihat di perempatan. Ia selalu berdiri di antara embusan belas kenderaan. Merekah bibirnya bila telah terlihat tranex[1] menuju kota tempat bujangnya menimba ilmu. Maka, ia akan mengulurkan tangan, memberikan sebuah kardus bertuliskan:

Pengirim: Bu Ilin – Payakumbuh

Untuk: Ananda Aban – Padang

Kerinduannya sedikit terobati setiap melihat tranex yang selalu setia menitip kasihnya. Ia selalu bergegas mengulurkan tangan di sela teriakan kernet yang enggan menolak titipan.

“Untuk anak Ibu, di Padang.”

Seketika, kardus beralih tangan. Tranex telah melaju. Sementara Ibu masih berdiri di perempatan, menyaksikan pembawa titipan hingga jauh.

***

Senja telah tiba. Ibu kembali merenung di pangkuan sajadah. Ia membayangkan anaknya yang sedang bersila. Kardusnya telah terbuka dan di sana, anaknya sedang melahap samba lado tanak[2] kirimannya. Seketika, terkenang pula lahapnya santapan si anak bujang. Ah, Ibu memang sedang bahagia. Ibu bergegas menuju almanak dinding dan menyilangi salah satu angka yang tertera.

Sekali waktu, Ibu terlambat di perempatan. Tranex telah melaju sebelum pukul sepuluh. Itu hari, Ibu hanya terisak karena kardusnya berisi rendang dan kentang. Maka Ibu pun enggan membuka kardusnya begitu pulang. Hanya anaknya yang boleh membuka dan ia biarkan rendang terperam.

Bila Jumat tiba, Ibu akan kembali berdandan rapi. Ia akan mengunjungi Pekan Jumat. Ia akan menjumpai para pedagang yang datang seminggu sekali. Di sana, ia akan menemukan para penjual pakaian dan minyak wangi. Ada juga yang menjual makanan, bunga-bunga, dan perabotan. Akan tetapi, kedatangannya bukan untuk mencari pakaian dan minyak wangi. Juga bukan untuk makanan, bunga, apalagi perabotan rumahnya. Ia akan melewatinya, terus berjalan menuju belakang pekan. Di sana, ia akan menemukan teri, udang, dan ikan padang[3]. Ia terus berjalan. Berjalan beberapa langkah lagi hingga ia menemukan lelaki kumuh yang selalu setia menanti pembeli.

“Baluik[4] satu kilo.”

***

Perempatan: 08.08

Ibu kembali berdiri di perempatan. Kali ini ibu memang datang lebih awal dari yang sebelumnya. Ibu hanya tidak ingin ketinggalan tranex, mengingat betapa berharganya kardus di genggaman bagi anaknya. Di dalamnya berisi goreng baluik, salah satu buah bibir anaknya jikalau demam.

Seketika, penunggu warung kopi perempatan mendekati ibu. “Bukankah tranex baru tiba pukul sepuluh, Bu?”

“Saya hanya tidak ingin terlambat,” ujar Ibu, lalu memandangi kardusnya dalam genggaman. “Di kardus ini tersimpan goreng baluik kesukaannya.”

“Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud …” Penunggu warung kopi menghela napas. “Saya tahu betul, Bu, kehidupan para mahasiswa di sana. Anak tetangga saya juga kuliah di sana dan memang tidak pernah pulang. Kurang-lebih sama seperti anak Ibu. Tetapi anak itu memang anak yang keras kepala. Ia terlibat minuman keras dan perkelahian. Hingga kini masih meringkuk di dalam tahanan. Ada pula keponakan saya. Ia pulang bukan membawa ijazah, tetapi berita bahwa ia menghamili anak orang. Belum lagi mahasiswa yang tidak diketahui lagi rimbanya. Ah, barangkali tewas, Bu, karena kerusuhan yang melanda kota.”

Seketika, Ibu berurai air mata. Tujuh semester sudah ia kehilangan bujangnya. Alangkah sedih bila bujangnya terjamah jalan yang salah. Ia rela mengisap garam agar anaknya mengenyam rendang. Ia mulai membayangkan seorang bujang yang menderita. Barangkali, bukan sekedar masakannya yang dibutuhkan, tapi juga lainnya, dan Ibu kembali berharap agar Jumat lekas kembali.

***

Padang

Bukan untuk mengeluhkan lelah bila siang tiba. Apalagi menarik selimut sembari memejamkan mata. Mereka bersuara, memanggil harta dengan pesona. Bila sang agen berebut penumpang sembari mengulurkan secarik kertas, maka para calo menggoda calon penumpang bersama senyum yang menawan. Lain lagi yang dilakukan si penjaja koran. Mereka sering membacakan berita agar si pendengar tertarik sehingga membeli.

“Berita terbaru, Pak. Belati Mahasiswa Mencium Rentenir.”

“Ah, kemarin beritanya juga sama.”

“Lain lagi, Pak. Bila kemarin mahasiswa membunuh karena tidak dipinjami uang, sekarang karena ia ditagih utang.”

Tranex dari Payakumbuh telah tiba. Kernet membangunkan penumpangnya yang terlena embusan siang. Ia memberikan uang kembalian beberapa penumpang, lalu turun sembari menenteng kardus mingguan. Ia mulai berjalan menuju perempuan yang sedang menghitung bangku terbeli. Sembari tersenyum, ia ulurkan kardus titipan.

“Dari seorang ibu untuk anaknya.”

“Saya masih bekerja,” perempuan itu mengisyaratkan kernet agar menaruhnya di ruangan tengah.

Kernet berjalan menuju ruangan tengah, ruangan khusus untuk menempatkan kardus mingguan. Namun, ia seketika termangu melihat beberapa kardus dengan pengirim yang sama. Ia menyaksikan nama pengirim yang tertera di kardus genggamannya. Lalu kembali dialihkannya pandangan pada beberapa kardus dan …. Seketika teringat olehnya seorang perempuan paruh baya yang selalu menunggu di perempatan. Ia bergegas menuju ruang depan, lalu bertanya pada perempuan penghitung kursi.

“Saya pun bertanya. Sudah belasan kardus dengan pengirim yang sama. Tak dijemput-jemput.” Perempuan itu masih sibuk menghitung jumlah kursi yang telah terbeli, mengatur jadwal keberangkatan dan … “Sebelumnya, memang ada anak laki-laki yang menjemputnya. Tapi belakangan, beberapa kardusnya sering terperam. Sebagian dipindahkan ke ruang belakang. Barangkali di kardus itu berisi masakan.” Ia menoleh sejenak ke wajah kernet. “Sekali waktu, saya mengintipnya dan terciumlah aroma basinya.”

***

Ibu merogoh saku dasternya yang telah lusuh. Ia mengeluarkan segenggam kain berisi kunci. Ia berjalan menuju bilik lalu menghadap sebuah lemari. Dalam waktu singkat, lemarinya telah terbuka. Di antara kebaya dan pakaian almarhum suaminya, Ibu mengeluarkan sebuah benda yang telah terendap lama. Ia menimang lalu menimbang. Ibu akan mengunjungi kembali Pekan Jumatnya. Receh sisipan untuk persiapan berobatnya, seketika berserakan setelah celengan mendabik lantai.

Berpayung awan hitam, Ibu bergegas mengejar perempatan. Ia telah mengunjungi kembali Pekan Jumatnya. Ia telah berlama-lama ketika mengunjungi. Ia berdiri lama di antara para penjual pakaian, mengenang bujangnya, menerka ukuran badan, lalu memilih pakaian yang sesuai dengan selera si jantung hati. Ia juga berhenti di antara puluhan botol minyak wangi. Ia telah berkisah pada gadis penjual minyak wangi dan membelikan satu botolnya. Ia juga membelikan setangkai bunga sebagai bukti kasih pada bujangnya. Bersama randang talua[5], ia menyatukannya ke dalam sebuah kardus yang kini tergenggam di pelukan.

Gerimis mulai turun. Ibu memaki penjaga warung kopi yang kembali menasihati. Ibu mengenal bujangnya. Tentu, bujangnya tak akan salah arah. Apalagi terjamah jalan yang salah. Sebentar lagi, ia akan pulang sembari membawa selembar ijazah.

“Sampaikan salam pada anak Ibu. Katakan bahwa ibu merindukannya.”

Kernet terdiam kaku. Ia ingin sekali mengabarkan tentang belasan kardus yang masih terperam. Berikut belasan berita yang sering diperdengarkan si penjaja koran. Akan tetapi, ia tidak hendak melukai hati Sang Ibu. Tranex kembali melaju. Sementara kernet masih menggenggam kardus titipan sembari memandang Ibu dari jauh. (Padang, 2014)

 

Catatan:

[1] Bis jurusan Payakumbuh-Padang

[2] Sambal yang dibuat dari cabai dan bumbu lainnya kemudian dihangatkan dengan santan hingga kering

[3] Sebutan sebagian orang Payakumbuh untuk ikan tongkol

[4] Belut/ikan yg bentuknya panjang seperti ular

[5] Rendang yang bahan dasarnya dari telur yang dipipihkan

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *