Marosok

“Barangkali, Sanak pernah membaca sebuah cerita yang sama karya penulis yang sama dengan cerita yang nyaris berbeda. Mungkin, penulisnya itu sudah terlanjur bosan sama kalimat-kalimatnya, tokoh-tokohnya, atau tempat, atau peristiwa, atau konflik, tapi terlanjur jatuh cinta pada ide yang pernah ditemukannya. Atau, secara  tiba-tiba saja si empunya cerita menyadari bahwa itu belum tuntas, sehingga memutuskan untuk menulis ulang cerita dengan ide yang sama dengan konsep yang tak serupa. Untuk itu, aku mempunyai alasan untuk menyebut kumpulan paragraf di bawah ini sebagai cerpen—entah nanti tulisan ini kusebut sebagai cerpen yang buruk, atau sekedar catatan perjalanan, atau kutulis ulang saja dengan ide yang sama dan bentuk yang sepenuhnya baru.”

Marosok

Itu malam penutupan. Di Blanco Renaissance Museum, Ubud, kita tak ubahnya penjual dan pembeli sapi yang sedang transaksi. Kecuali tangan yang saling menggenggam, kita saling menolak untuk bicara, saling menghindari kontak mata. Di antara orang-orang yang tenggelam di pelukan dansa, kau dan aku hanya mematung—hanya jemari kita yang saling berbisik. Di kampungku, seperti yang pernah kukatakan padamu, yang kita lakukan itu persis marosok—sebuah transaksi yang dilarang untuk berisik.

Dari cerita yang pernah kudengar, tradisi itu telah diwariskan turun-temurun. Setiap selasa pagi, sapi-sapi akan dikeluarkan dari kandangnya. Di pasar ternak, berkumpullah pembeli dan pemilik—mencari pasangan, menyatukan telapak tangan demi tawaran yang dirahasiakan. Di sana, mereka tak akan bicara. Seperti kita. Usai bersalaman, mereka akan menutupi dua tangan yang bersalaman dengan sarung, atau handuk, atau topi untuk menyembunyikan—di samping untuk menjaga kehormatan antara pembeli dan pemilik. Mereka cukup bersalaman, saling memainkan jari-jemari untuk berjual beli.

Konon, setiap jari melambangkan nilai uang. Puluhan ribu, ratusan ribu … sampai bilangan yang waktu itu tak terbilang. Pembeli dan pemilik saling menggenggam, memegang jari, menggoyang ke kiri dan ke kanan. Bila kesepakatan telah didapat, mereka akan saling melepaskan. Barangkali seperti kita yang akan meninggalkan pesta, balik ke penginapan, lalu merancang pertemuan lain dalam kepala. Akan tetapi, menurut cerita, bila kesepakatan belum terjalin; mereka akan terus menggenggam, mempererat pegangan sampai salah satunya mau mengalah—entah pembeli yang bosan menawar atau pemilik yang berbesar hati menurunkan harga.

Malam itu, jari-jarimu masih mengurut punggung telapak tanganku yang berkeringat, mengisyaratkan agar aku sabar menunggu. Perlahan, kau menarik genggaman menyusuri ruas pertama pada telunjuk, ruas kedua dan menghentikannya di ujung kuku. Sambil memejamkan mata, aku menjepit jari tengahmu dengan jari tengahku dan ibu jari, memelintir lembut dengan bantuan telunjuk lalu merangkul tanganmu demi mempertahankan sebuah genggaman.

Demi menepis keraguanmu, ibu jariku segera mengusap punggung tanganmu dengan perlahan. Jemarimu bergerak cepat dan menjepit ibu jariku, menggenggamnya dengan erat. Jempol jari terbesar di samping penanda bilangan awal, yang bila diterjemahkan berdasarkan waktu: itulah waktu tercepat. Beberapa hari sebelumnya, kita sering membicarakannya. Tentang tata cara, nilai-nilai, dan maksud yang ditentukan dari rabaan. Namun, kali ini tentu saja bukan tentang segala ketentuan jual beli yang pernah kuceritakan ulang. Ini bukan perihal nilai harga, tetapi waktu. Aku baru saja ingin menjerit ketika kau menekan jempolku dengan kuku, ketika kau melonggarkan pegangan dan jemarimu mulai menyusuri ruas demi ruas jempolku dan kembali menghentikannya di ujung kuku: satu bulan dari sekarang!

Aku menengadah, bersikeras agar mataku tak mencengkeram matamu. Langit tak lagi terang. Hanya sepasang bintang yang enggan berselimut awan. Seraya memejamkan mata, mulai kuulur jempolku secara perlahan: satu tahun dari sekarang.

Ah, aku tahu kau memecah pandangan, seperti kau bisa membayangkan bahwa aku mulai tersenyum kecut karena ketidaksabaranmu pada itu. Kau melonggarkan cengkeraman, dan tepat di dadaku, kau hembuskan perlahan keputusasaan. Kau menarik genggaman secepat jemariku menggenggam erat. Bukankah masih ada sentuhan yang belum terasa? Aku mulai menggenggamnya dengan pasti. Memetik ibu jarimu, telunjuk, jari tengah, jari manis, kelingking, dan kembali ke jempol sampai kelingking dengan lebih cepat. Sepuluh bulan terasa begitu cepat untuk genggamanku mengetuk pintu.

Kau masih menggenggam tanganku—sesekali memegang telunjuk dan sesekali mengusap ibu jari. Namun, kita tak sedang berjual beli. Tanpa suara, kita membicarakan hati. Bagaimana waktu melangkah cepat dan kita akan kembali ke rumah masing-masing. Kau pulang ke Malang; aku balik ke Padang; dan kita akan terpisah sampai waktu yang tak bisa ditentukan. (Denpasar—Payakumbuh, 16/17)

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *